Particulate Matter: Mengenal PM1, PM2.5, PM10, Sumber, dan Cara Mengukurnya

oleh Akhmad Hidayat | Sep 21, 2026 | Alat Uji Lingkungan, Umum

Udara yang terlihat bersih belum tentu benar-benar bebas dari partikel.

Di dalam udara yang kita hirup setiap hari terdapat berbagai partikel berukuran sangat kecil. Sebagiannya dapat terlihat sebagai debu atau asap, tetapi sebagian lainnya terlalu kecil untuk diamati dengan mata. Partikel tersebut dapat berasal dari kendaraan, proses pembakaran, aktivitas industri, konstruksi, kebakaran, maupun sumber alami.

Particulate Matter (PM) merupakan istilah untuk kelompok partikel padat dan cair yang melayang di udara

Namun, PM bukan hanya tentang debu yang beterbangan. Ukuran, sumber, konsentrasi, dan karakteristik partikelnya dapat berbeda. Karena itu, pemantauan partikulat menjadi salah satu bagian penting dalam memahami kualitas udara.

Apa Itu Particulate Matter (PM)?

Particulate Matter (PM) adalah campuran partikel padat dan droplet cair yang berada atau melayang di atmosfer. Partikel tersebut dapat terdiri dari berbagai material, seperti debu, jelaga, asap, abu, senyawa organik, garam, serta material lain yang terbentuk melalui proses alami maupun aktivitas manusia.

Ukuran partikel menjadi salah satu karakteristik penting.

Dalam pemantauan kualitas udara, partikulat sering dikelompokkan berdasarkan ukuran diameter aerodinamisnya. Karena itu, kita mengenal istilah seperti PM10, PM2.5, dan PM1.

Angka pada istilah tersebut menunjukkan batas ukuran partikel dalam satuan mikrometer atau µm.

Sebagai contoh, PM10 mengacu pada partikulat dengan diameter aerodinamis hingga sekitar 10 mikrometer. PM2.5 memiliki ukuran hingga sekitar 2,5 mikrometer, sedangkan PM1 memiliki ukuran hingga sekitar 1 mikrometer.

Perbedaan ukuran tersebut bukan sekadar angka. Ukuran memengaruhi bagaimana partikel bergerak di udara, berapa lama dapat bertahan di atmosfer, bagaimana partikel tersebar, serta seberapa jauh partikulat dapat masuk ke saluran pernapasan.

Mengapa Ukuran Partikel Penting?

Bayangkan debu sebagai kumpulan benda dengan ukuran yang sangat beragam.

Sebagian partikel relatif besar dan lebih mudah mengendap. Partikel yang lebih kecil dapat bertahan lebih lama di udara dan terbawa oleh pergerakan massa udara.

Karena itu, pengukuran partikulat tidak cukup hanya menjawab pertanyaan:

“Berapa banyak debu yang ada di udara?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Partikel dengan ukuran berapa yang terdapat di udara, berapa konsentrasinya, dan bagaimana konsentrasinya berubah?”

Inilah alasan mengapa pemantauan PM biasanya membedakan beberapa fraksi ukuran.

PM10

PM10 merupakan partikulat dengan diameter aerodinamis hingga sekitar 10 mikrometer. Sumbernya dapat berasal dari debu jalan, tanah, aktivitas konstruksi, proses industri, aktivitas mekanis, serta sumber alami tertentu. Karena ukurannya relatif lebih besar daripada PM2.5, partikulat ini memiliki karakteristik penyebaran dan deposisi yang berbeda.

PM2.5

PM2.5 merupakan partikulat dengan diameter aerodinamis hingga sekitar 2,5 mikrometer. Partikel ini banyak berkaitan dengan proses pembakaran, termasuk emisi kendaraan, pembakaran bahan bakar, aktivitas industri, dan kebakaran hutan atau biomassa. Ukurannya yang lebih kecil membuat PM2.5 menjadi parameter penting dalam pemantauan kualitas udara.

PM1

PM1 mengacu pada partikulat dengan diameter hingga sekitar 1 mikrometer.

Fraksi ini berukuran lebih kecil daripada PM2.5 dan dapat menjadi parameter tambahan dalam karakterisasi partikulat, khususnya pada sistem pemantauan yang mampu melakukan pengukuran ukuran partikel secara lebih detail.

Tidak semua sistem monitoring kualitas udara mengukur PM1. Karena itu, kemampuan instrumen menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika menentukan sistem pemantauan.

Dari Mana Particulate Matter Berasal?

Partikulat di udara dapat berasal dari sumber alami maupun aktivitas manusia.

Sumber alami dapat mencakup debu tanah, abu vulkanik, aerosol laut, serbuk sari, dan kebakaran hutan.

Sementara itu, sumber antropogenik dapat berasal dari:

  • emisi kendaraan bermotor;
  • proses pembakaran;
  • aktivitas industri;
  • pembangkit energi;
  • konstruksi dan pekerjaan sipil;
  • pembakaran biomassa;
  • pembakaran sampah;
  • aktivitas pertambangan; dan
  • berbagai aktivitas domestik.

Menariknya, tidak semua partikulat harus langsung keluar dari sumber dalam bentuk partikel.

Sebagian partikulat dapat terbentuk melalui reaksi kimia di atmosfer dari senyawa atau gas tertentu. Karena itu, pembentukan partikulat dapat melibatkan proses yang cukup kompleks.

Dengan demikian, berbagai sumber dapat memengaruhi konsentrasi partikulat di suatu lokasi.

Kondisi angin, kelembapan, suhu, topografi, aktivitas manusia, dan kondisi atmosfer juga dapat memengaruhi distribusi serta konsentrasi partikulat.

Particulate Matter Tidak Selalu Terlihat

Salah satu hal yang membuat partikulat menarik untuk dipelajari adalah perbedaan antara apa yang terlihat dan apa yang sebenarnya terdapat di udara.

Debu tebal atau asap pekat memang dapat terlihat secara langsung. Namun, udara yang tampak jernih belum tentu memiliki konsentrasi partikulat yang rendah.

Sebagian partikulat memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga keberadaannya tidak dapat menentukannya hanya dengan pengamatan visual.

Karena itu, pemantauan kualitas udara membutuhkan instrumen yang dapat mengukur konsentrasi partikulat secara objektif.

Di sinilah teknologi pengukuran menjadi penting.

Bagaimana Mengukur Particulate Matter?

Kita dapat mengukur partikulat dengan berbagai metode. Pilihan metode bergantung pada tujuan pemantauan, parameter yang dibutuhkan, dan karakteristik instrumen.

Kita dapat mengukur partikulat dengan dua pendekatan utama. Pertama, kita mengambil sampel partikulat untuk mengetahui konsentrasi dan karakteristiknya. Kedua, kita mengukur konsentrasinya secara langsung dan real-time.

1. Metode Gravimetri

Pada metode gravimetri, udara ambien dilewatkan melalui media filter sehingga partikulat tertangkap pada filter.

Perbedaan massa filter sebelum dan setelah proses sampling kemudian digunakan untuk menentukan massa partikulat yang terkumpul terhadap volume udara yang dilewatkan.

Pendekatan ini penting karena memberikan pengukuran berbasis massa sampel.

Salah satu instrumen yang digunakan untuk pengambilan sampel partikulat adalah High Volume Air Sampler (HVAS).

2. High Volume Air Sampler

HVAS bekerja dengan menarik udara ambien melalui inlet menggunakan sistem pompa. Udara tersebut kemudian melewati media filter untuk menangkap partikulat sesuai konfigurasi dan fraksi ukuran yang ditargetkan.

ENVILIFE menyediakan HVAS untuk kebutuhan sampling partikulat, termasuk konfigurasi untuk TSP, PM10, dan PM2.5.

Keunggulan pendekatan sampling seperti ini adalah data yang diperoleh dapat digunakan untuk analisis berbasis sampel, bukan hanya pembacaan konsentrasi secara langsung di lapangan.

3. Optical Particle Counter dan Laser Scattering

Teknologi lain menggunakan prinsip optik.

Dalam pendekatan laser scattering, partikel yang melewati area pengukuran berinteraksi dengan cahaya laser. Hamburan cahaya tersebut kemudian dideteksi dan diolah oleh instrumen untuk memperkirakan karakteristik partikulat.

Pendekatan optik memungkinkan sistem tertentu melakukan pemantauan partikulat secara cepat dan berkelanjutan.

Teknologi seperti ini digunakan pada berbagai perangkat pemantauan kualitas udara, termasuk sistem yang mampu mengukur beberapa fraksi partikulat sekaligus.

Sampling dan Real-Time Monitoring: Apa Bedanya?

Dua pendekatan tersebut sebenarnya tidak perlu dipertentangkan.

Sampling dan real-time monitoring dapat memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi.

Sampling memberikan pendekatan berbasis pengambilan sampel yang dapat dianalisis lebih lanjut.

Sementara itu, monitoring real-time membantu melihat perubahan konsentrasi partikulat dari waktu ke waktu.

Misalnya, sistem monitoring dapat memperlihatkan adanya peningkatan konsentrasi partikulat pada jam tertentu. Informasi tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan aktivitas kendaraan, proses produksi, kondisi cuaca, atau aktivitas lain di sekitar lokasi.

Dengan data yang dikumpulkan secara berkelanjutan, pola kualitas udara menjadi lebih mudah dipahami.

Dari Pengukuran PM Menuju Air Quality Monitoring System

Pengukuran partikulat merupakan salah satu bagian dari sistem pemantauan kualitas udara yang lebih luas.

Dalam Air Quality Monitoring System (AQMS), partikulat dapat dipantau bersama parameter gas dan meteorologi.

Secara sederhana, alurnya dapat digambarkan sebagai:

Alur monitoring partikulat dengan AQMS dari sensor analyzer hingga analisis kualitas udara
Monitoring Partikulat dengan AQMS: dari pengukuran PM10, PM2.5, dan PM1 hingga pengolahan data dan analisis kualitas udara.

Parameter partikulat seperti PM2.5 dan PM10 kemudian dapat dianalisis bersama parameter lain, seperti gas pencemar, suhu, kelembapan, kecepatan angin, dan arah angin.

Pendekatan multi-parameter ini penting karena kualitas udara merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh banyak faktor.

Satu angka PM saja belum tentu menjelaskan keseluruhan kondisi lingkungan.

Mengapa Data Particulate Matter Perlu Dipantau Secara Berkala?

Konsentrasi partikulat dapat berubah dari waktu ke waktu.

Pagi hari dapat memiliki karakteristik berbeda dengan siang atau malam. Aktivitas kendaraan dapat memengaruhi kondisi di kawasan perkotaan. Aktivitas konstruksi dapat meningkatkan partikulat lokal. Kondisi angin dan atmosfer juga dapat memengaruhi penyebaran polutan.

Karena itu, satu kali pengukuran hanya memberikan gambaran pada waktu dan lokasi tertentu.

Pemantauan berkala atau kontinu memungkinkan kita melihat:

  • perubahan konsentrasi;
  • pola harian;
  • lonjakan partikulat;
  • tren kualitas udara;
  • hubungan antara partikulat dan aktivitas tertentu;
  • pengaruh kondisi meteorologi; serta
  • perubahan kondisi lingkungan dalam periode tertentu.

Data yang dikumpulkan secara konsisten kemudian dapat menjadi dasar untuk analisis yang lebih mendalam.

Dari Data PM Menjadi Informasi Kualitas Udara

Teknologi monitoring modern tidak berhenti pada angka yang muncul di layar.

Data partikulat dapat dikumpulkan, disimpan, divisualisasikan, dan dianalisis sehingga menghasilkan informasi yang lebih mudah dipahami.

Misalnya:

Alur teknologi monitoring modern dari pengukuran hingga interpretasi data kualitas udara
Alur teknologi monitoring modern dari pengukuran hingga interpretasi data kualitas udara.

Sistem terintegrasi dapat mengolah proses tersebut lebih lanjut melalui alur berikut:

Alur teknologi pemantauan lingkungan terintegrasi dari sensor IoT telemetry cloud dashboard hingga environmental intelligence
Teknologi pemantauan lingkungan terintegrasi menghubungkan sensor, IoT, cloud, dashboard, dan analitik untuk mengubah data lingkungan menjadi environmental intelligence

Inilah pergeseran penting dalam teknologi pemantauan lingkungan.

Tujuannya bukan hanya mengetahui nilai PM saat ini, tetapi juga memahami penyebab perubahannya dan menentukan tindakan berdasarkan informasi tersebut.

ChatGPT can make mistakes. Check important info.

Peran ENVILIFE dalam Pemantauan Partikulat

Sebagai penyedia teknologi dan instrumentasi lingkungan, ENVILIFE menghadirkan berbagai solusi yang dapat digunakan untuk kebutuhan pemantauan kualitas udara dan partikulat.

Portofolionya mencakup sistem Air Quality Monitoring System (AQMS) serta instrumen sampling seperti High Volume Air Sampler (HVAS).

Pada solusi AQMS tertentu, parameter partikulat seperti PM2.5 dan PM10 dapat dipantau bersama parameter gas dan meteorologi. Sementara itu, produk AQMesh yang tersedia melalui ENVILIFE dapat mengukur beberapa fraksi partikulat, termasuk PM1, PM2.5, PM4, dan PM10 menggunakan optical particle counter berbasis hamburan cahaya.

Dengan pilihan instrumen dan sistem yang berbeda, kebutuhan pemantauan dapat disesuaikan dengan tujuan pengukuran, lokasi, parameter, serta karakteristik data yang dibutuhkan.

Memahami Particulate Matter Berarti Memahami Udara dengan Lebih Baik

Particulate Matter merupakan salah satu bagian penting dalam cerita tentang kualitas udara.

Ia tidak hanya berbicara tentang debu atau asap yang terlihat. Di balik istilah PM terdapat berbagai ukuran partikel, sumber pencemar, proses atmosfer, metode pengukuran, serta teknologi monitoring yang memungkinkan kondisi udara dipahami secara lebih objektif.

PM10, PM2.5, dan PM1 membantu kita melihat bahwa ukuran partikel merupakan bagian penting dari karakterisasi kualitas udara.

Sementara itu, teknologi seperti HVAS, metode gravimetri, optical particle counter, laser scattering, dan AQMS memberikan pendekatan berbeda untuk mengukur serta memantau partikulat.

Pada akhirnya, tujuan pengukuran bukan sekadar menghasilkan angka.

Data yang baik harus dapat membantu kita memahami kondisi lingkungan.

Dan ketika data partikulat dikombinasikan dengan parameter udara lainnya, pemantauan dapat berkembang dari sekadar measurement menjadi monitoring, analysis, dan environmental intelligence.

Karena udara mungkin terlihat sama setiap hari.

Namun, datanya bisa menceritakan cerita yang sangat berbeda.

Bagikan ke: